Pakaian Adat Anggota DPRD Kota Bandung Rp 83 Juta

 

JLN. ACEH,(GM)-
Tidak seperti biasanya, pada puncak peringatan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) yang ke-200, Sabtu (25/9) kemarin, hampir seluruh stakeholder yang hadir dalam rapat paripurna istimewa menggunakan pakaian adat Sunda. Bahkan panitia acara dari Sekretariat Dewan (Setwan) pun menggunakan pakaian yang sama. Pria menggunakan pakaian adat Sunda dengan samping didodot, sementara wanita memakai kebaya.

Uniknya, hampir sebagian besar mereka yang hadir menggunakan pakaian adat yang baru dibuat atau disewa. Dari kalangan legislatif, 50 anggota dewan seluruhnya menggunakan pakaian adat yang baru dibuat. Sementara dari kalangan eksekutif, sebagian besar menyewa pakaian ke salon-salon atau tempat penyewaan pakaian.

Asisten I Pemkot Bandung, Timbul Butar Butar misalnya. Ia mengaku menyewa pakaian ke salon di dekat rumahnya. Ia sengaja meminjam karena sama sekali tidak memiliki pakaian adat Sunda. Namun untuk harga sewa pakaian itu, Timbul enggan menyebutkan.

“Ya adalah, pokoknya sewa. Tidak apa-apa karena ini hanya sekali. Kalau untuk bikin ‘kan sayang,” kata Timbul di sela-sela rapat paripurna istimewa dalam rangka peringatan HJKB ke-200 di Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika, Sabtu (25/9).

Jika kalangan eksekutif menggunakan pakaian sewaan, lain halnya dengan 50 anggota dewan. Mereka menggunakan pakaian adat yang baru dibuat. Hal itu pun diakui salah seorang anggota DPRD Kota Bandung, Tomtom Dabbul Qomar. Menurutnya, pembuatan pakaian adat baru itu wajar karena dibuat hanya sekali, namun akan digunakan dalam beberapa kesempatan.

Lebih lanjut ia menyatakan, pembuatan dan penggunaan pakaian adat itu juga merupakan salah satu cara melestarikan budaya Sunda. “Saya sendiri menyambut baik hal ini. Jangan lihat barunya, tapi lihat upaya kita melestarikan budaya Sunda,” kata Tomtom di tempat yang sama.

Pernyataan Tomtom diperkuat oleh Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Kota Bandung, Herry M. Djauhari. Kepada wartawan usai acara Herry menyebutkan pembuatan dan penggunaan pakaian adat itu sudah dibahas dalam Badan Musyawarah (Bamus). Dan mayoritas anggota dewan menyetujuinya. “Kita tidak sembarangan. Ini semua sudah dibahas di Bamus,” ujarnya.

Untuk pembuatan pakaian adat itu, terangnya, Setwan harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 83 juta untuk 63 setel pakaian. Rinciannya 50 pakaian untuk anggota dewan dan 16 lainnya untuk Setwan. Artinya dengan total anggaran sebesar Rp 83 juta itu, maka satu setel pakaian (baju dan celana untuk laki-laki dan kebaya untuk wanita, red) harganya sekitar Rp 1,3 juta. Anggaran itu sendiri diambil dari APBD 2010. (B.114)**

Minggu, 26 September 2010

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20100926182221&idkolom=tatarbandung

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s