DPRD Nilai Sekolah Terlalu Istimewakan Bahasa Asing

Surabaya (beritajatim.com) – Ironis. Itulah kata yang tepat untuk disematkan pada hasil Ujian Nasional (UN) di Surabaya tahun ajaran 2009-2010 ini. Bukan karena rendahnya angka kelulusan siswa, namun karena jebloknya nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Ironisnya, bangsa ini adalah Indonesia dan menggunakan bahasa nasional bahasa Indonesia. Namun kenyataannya, hasil yang didapat hampir sebagian besar siswa rendah di mata pelajaran tersebut. Catatan Dinas Pendidikan Surabaya, dari 260 siswa SMA di kota ini yang mengulang UN, 110 diantaranya mengulang mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Sedangkan untuk SMK, dari sekitar 1300 siswa yang ujian ulangan, hampir 900 siswa atau hingga 70 persen diantaranya harus mengulang Bahasa Indonesia. Tentu saja, jika dibiarkan kondisinya seperti ini, maka akan mengancam generasi penerus bangsa sendiri, karena Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bisa dikatakan buruk. Untuk itu, DPRD Surabaya yang mengetahui hal tersebut tidak bisa diam.

Wakil Ketua DPRD Surabaya, Whisnu Sakti Buana mengaku sangat prihatin dengan kondisi dan kenyataan yang terjadi pada UN tahun ini, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. “Inikan aneh, masak anak Indonesia tidak bisa mengerjakan Bahasa Indonesia?,” tanyanya keheranan, Rabu (28/4/2010).

Ia menilai, pada kurikulum pelajaran dari Dinas Pendidikan ada yang keliru. Kata dia, kurikulum saat ini harus diubah dan diperbaiki serta mencari solusi agar jebloknya mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam UN tidak terjadi lagi tahun depan. Legislator asal PDIP itu juga menilai, rendahnya nilai Bahasa Indonesia karena anggapan remeh dari siswa dan guru.

Namun, Whisnu menggaris bawahi bahwa yang paling bersalah adalah kurikulum. “Sekarang itu kurikulumnya aneh. Bahasa Inggris dinomorsatukan daripada Bahasa Indonesia. Kita tahu, kenyataannya Bahasa Inggris jadi gengsi sekolah-sekolah dan membiarkan bahasa nasional sendiri, baik secara teori maupun praktek,” terangnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya menilai bahwa saat ini anak kelas I tingkat sekolah dasar pun tidak sedikit yang mata pelajarannya terdapat Bahasa Inggris. “Padahal, kalau boleh usul, sebenarnya Bahasa Inggris bisa diajarkan pada Kelas III SD keatas. Untuk kelas I-III, biarkan Bahasa Indonesia dikuasai dahulu, terlebih pelajaran teorinya.

 Lha kalau sekarang itu beda, Bahasa Inggris malah diwajibkan, tapi bahasa sendiri dilupakan,” papar putra politisi senior DPP PDIP, Sutjipto itu. Karena itulah, pihaknya dalam waktu dekat ini akan memanggil Dinas Pendidikan Surabaya untuk meminta kejelasan tentang jebloknya mata pelajaran Bahasa Indonesia ini. “Kami juga meminta pertanggungjawaban Kepala Dinas Pendidikan tentang hasil UN secara keseluruhan tahun pelajaran sekarang,” ungkap Whisnu.

Komentar lebih pedas dikatakan M. Mahmud, Ketua Komisi B DPRD Surabaya. Menurut dia, tidak tingginya angka kelulusan di Surabaya ini tak lepas dari kurang berdedikasinya Kepala Dinas Pendidikan, Sahudi kepada pendidikan. “Kita kan tahu sendiri, menjelang UN dulu sampai sekarang, beliau (Sahudi,red) lebih memikirkan menggelar jalan sehat buat guru untuk kepentingan politik.

Lha kalau Kepala Dinasnya memikirkan politik, tugasnya selama ini dikemanakan. Apalagi menjelang detik-detik UN lalu,” cetus pria yang juga mantan wartawan tersebut. Sementara, Komisi D DPRD Surabaya selaku komisi yang salah satu tugasnya menangani bidang pendidikan berencana memanggil Dinas Pendidikan Surabaya untuk menjelaskan alasan dan bagaimana situasi yang terjadi pasca pengumuman hasil kelulusan. “Pak Sahudi dan pejabat Dinas Pendidikan akan kami panggil sesegera mungkin,” tegas Ketua Komisi D, Baktiono.[fqi/ted]

Sumber : http://www.beritajatim.com/detailnews.php/11/Pendidikan_&_Kesehatan/2010-04-28/62449/_DPRD_Nilai_Sekolah_Terlalu_Istimewakan_Bahasa_Asing

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s